Monday, May 13, 2019

Pengantar Ilmu Balaghah (5)

بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk ‫وان كنتم فى ريب مما نزلنا‬‎
Pengantar Ilmu Balaghah (5)
Mengenal Tingginya Sastra Al Qur’an
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba'du:
Berikut lanjutan pengantar ilmu Balaghah agar kita mengetahui tingginya sastra Al Qur’an, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, aamin.
ILMU MA’ANI, BAYAN, DAN BADI
3. Ilmu Badi
Ilmu Badi adalah ilmu yang membahas tentang cara menghias kalimat baik pada lafaznya maupun maknanya.
Contoh penghias makna adalah:
a. Tauriyah, yaitu ketika disebut suatu kata memiliki dua makna  (arti); arti dekat yakni yang segera difahami pendengar, dan arti jauh yang sebenarnya ini maksudnya karena ada qarinah (tanda) yang tersembunyi.
Contoh firman Allah Ta’ala,
وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ
“Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari,” (Qs. Al An’aam: 60)
Maksud kata “  جَرَحْتُمْ  ” adalah arti yang jauh, yakni melakukan perbuatan dosa.
b.Thibaq, yaitu mengumpukan dua arti yang berlawanan. Contoh firman Allah Ta’ala,
وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ
 “Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur.” (Qs. Al Kahfi: 18)
يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ
“Mereka dapat bersembunyi dari manusia, namun tidak dapat bersembunyi dari Allah.” (Qs. An Nisaa’: 108)
c. Muqabalah, yaitu digunakan dua kata atau lebih, lalu diimbangi dengan kata-kata berlawanan secara berurutan. Contoh firman Allah Ta’ala:
فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا
“Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak.” (Qs. At Taubah: 82)
d. Istikhdam, yaitu menyebutkan lafaz dengan suatu arti dan menyebutkan dhamirnya namun dengan arti yang lain. Contoh firman Allah Ta’ala,
فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
“Barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (Qs. Al Baqarah: 185)
Yang dimaksud “الشَّهْرَ ” di sini adalah hilal (bulan sabit), namun yang dikehendaki pada dhamir adalah waktu yang sudah maklum (satu bulan).
e. Uslubul Hakim, yaitu menyampaikan kepada pendengar kalimat yang tidak diminta untuk mengingatkan kepadanya hal yang lebih layak diketahui. Contoh firman Allah Ta’ala,
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ
 “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, “bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan bagi ibadah haji.” (Qs. Al Baqarah: 186)
Dalam ayat ini diterangkan, bahwa para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang keadaan bulan yang semula tampak kecil lalu tampak menjadi besar, dan akhirnya menjadi kecil kembali. Hal ini adalah salah satu masalah dalam ilmu falak yang untuk memahaminya diperlukan pengkajian detail dan serius. Oleh karena itu, Al Qur’an memalingkan mereka dari masalah itu dengan menjelaskan bahwa bulan itu merupakan tanda untuk mengetahui waktu bekerja dan beribadah. Hal ini merupakan isyarat, bahwa sebaiknya mereka bertanya tentang faedah ini, juga menunjukkan bahwa pembahasan dalam ilmu ada yang perlu ditunda sampai tiba saatnya nanti.
Contoh penghias lafaz adalah:
a. Jinas, yaitu dua lafaz yang sama, namun berbeda dalam makna (arti). Jinas ini ada dua macam:
Pertama, Jinas Tam, yaitu samanya lafaz namun berbeda makna. Contoh firman Allah Ta’ala,
وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يُقْسِمُ الْمُجْرِمُونَ مَا لَبِثُوا غَيْرَ سَاعَةٍ كَذَلِكَ كَانُوا يُؤْفَكُونَ
“Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa; "Mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja)." Seperti itulah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran).” (Qs. Ar Ruum: 55)
Lafaz “  السَّاعَة  ” yang pertama maksudnya Kiamat, sedangkan yang kedua maksudnya waktu yang sebentar.
Kedua, Jinas Naqish yaitu adanya kesamaan namun tidak seluruhnya. Contoh firman Allah Ta’ala,
فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ (9) وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ (10)
“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.--Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.” (Qs. Adh Dhuha: 9-10)
Lafaz “  تَقْهَرْ  ” dan “  تَنْهَرْ  ” ada kesamaan namun tidak seluruhnya.
b. Saja’, yaitu persesuaian dua fashilah (pemisah) dalam natsar (prosa; bukan syair) pada huruf akhirnya.
Ibnul Qayyim berkata, “Saja’ atau tidak merupakan dua uslub yang dipakai oleh lisah para ahli sastra bangsa Arab dan para oratornya, mereka menyebutkannya tanpa susah payah dan tanpa serampangan. Dalam Al Qur’an ada ayat yang kosong dari saja’ dan ada ayat yang banyak dipenuhi saja’, bahkan sebagian surat dari awal ayat hingga akhirnya dipenuhi saja’ seperti ayat iqtarabatis saa’ah (surah Al Qamar), surah Adh Dhuha, dan Al kautsar, maka fahamilah.”
Akan tetapi saja’ yang disebutkan Al Qur’an tidak seperti saja para peramal atau lainnya, bahkan sebagai saja’ yang mengandung mukjizat yang mengalahkan para sastrawan. Oleh karena itu, Al Qur’an merupakan asas dimana kaidah-kaidah dalam ilmu Balaghah kembali kepadanya.
Contoh betapa tingginya sastra Al Qur’an adalah firman Allah Ta’ala,
أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَى (21) تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَى (22)
“Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?--Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.” (Qs. An Najm: 21-22)
c. Iqtibas, yaitu ketika suatu kalimat mengutip ayat atau hadits.
Contoh:
يَوْمَ يَأْتِي الْحِسَابُ مَا لِظَلُوْمٍ مِنْ حَمِيْمٍ وَلاَ شَفِيْعٍ يُطَاعُ
Pada hari datangnya hisab, maka orang zalim tidak memiliki teman akrab dan pembela yang dapat diandalkan.
Lafaz “  مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ   ” diambil dari surah Ghafir ayat 18.
Contoh yang dikutip dari hadits,
وَإِذَا مَا شِئْتَ عَيْشًا بَيْنَهُمْ خَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنِ
 Jika engkau ingin tingga di tengah-tengah mereka, maka bergaullah dengan akhlak yang mulia.
Lafaz “  خَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنِ  ” diambil dari hadits riwayat Tirmidzi dari Abu Dzar dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu anhuma.
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji’: Maktabah Syamilah versi 3.45, Qawa’idul Lughatil Arabiyyah (Hifni Bek Dayyab, dkk.), Hidayatul Insan bitafsiril Qur’an (Penulis),  https://www.alukah.net/sharia/0/103195/https://mawdoo3.com/الأساليب_البلاغية_في_اللغة_العربية#. , http://www.3refe.com/vb/showthread.php?t=225470 , http://kertugas.blogspot.com/2018/01/majaz-aqli-dalam-ilmu-balagah-kata.html, l. Dll.

Silahkan berkomentar, komentar yang relevan itu mencerminkan karakter asli anda
EmoticonEmoticon