Tuesday, May 21, 2019

Advertising & Blogger: things to consider

This article discusses some things to keep in mind when you are putting advertising on your blog.



If you are considering putting advertising onto your blog, there are some basic things that you need to think about.  These include broader philosophical questions, right down to nuts-and-bolts technical concerns.

This article is not a definitive guide - see somewhere like ProBlogger for that.   Rather it's a collections of thoughts about the issues specifically related to Google's Blogger and its relationship with advertisers.   And it may include some thoughts about philosophical and policy issues, if I do any deep research or thinkng about these in the future.


Terms and Conditions

There are lots and lots of possible advertising and affiliate marketing programmes.

Staying within the programme of terms and conditions (often called T&C's) for every programme that you participate in is important.   Every advertising programme has terms and conditions.   You need to find the ones that apply to the programme(s) you are considering.  Read them.  Remember them.  Follow them.   Keep up-to-date.

Also, keep an eye on Blogger's T&C's and content policy too, in case they have any impact on what advertising you are allowed to carry.


Advert Co-location

Not every type of advertising can be shown on the same web-page as every other type of advertising.  See the point about about terms-and-conditions.   And besides - you need some space on your blog for content, which is what keeps advertisement-viewers coming to you in the first place!

Blogger doesn't have any automatic support for conditionally showing advertising.  If any programme you have has constraints like this, then you may need to do some programming in order to use that programme.


Placing ads

If you want to use advertising that isn't integrated with Blogger through the Monetize tab, then you're going to have to place blocks of HTML code into gadgets or into pages.

You don't have to write the code (the advertising network does that), or change it.  You just have to copy and paste it, and put the HTML into your blog, wherever you want the advertising to do.   (Note:  HTML and Javascript are the only types of code you can use.   No SQL.   No php.)

If you're not comfortable-enough doing this with the Blogger template that you have, then stick to the Blogger-endorsed programmes that can be added through the Monetize tab.


Experiment, and Track Progress

Marketing is an art and science.   So can use scientific techniques for data gathering.   Experiment with altrnative ad-placement.   Maybe even create a 2nd non-public blog where you can test how things look when you set up ads (and other gadgets, for that matter).  Only put them into your real blog when you're happy with how they work.   Once your ad is live, track your progress.

To effectively track progress, you need to keep a list of the date when you made changes to your site, and then do regular data-analysis to see what effect these changes have on your number of visitors, and their behaviour.    This is tedious - but if you really want to know what works and what doesn't, it needs to be done.


Watch your ad-contents

Make sure you know what types of things the programme you have chosen is advertising.  With Blogger, you (we!) are getting web-hosting for "free" (we have to watch their ads), and domain registration very cheaply.   Make sure that the advertising you use doesn't cause you to violate Blogger's terms and conditions.  I'm thinking especially about Adult/Pornographic content here, but I guess it could apply to other things too.

If you are using AdSense, it's pretty much essential to manage the categories of ads that AdSense displays.



How will you get paid

Some advertising programmes are very easy to be part of:  they give you ad, and pay you regularly.   Other's are more difficult.   Worst case, you may find that some options are totally unuseable for you, because they cannot make payments in your contry.   Or the cost of getting paid is extremely high - ProBlogger has written before about the transaction time and cost of every payment he receives from Amazon.com.

Read More

Adab Terhadap Tetangga

بسم الله الرحمن الرحيم

Adab Terhadap Tetangga
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba'du:
Berikut pembahasan tentang adab terhadap tetangga, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Pengantar
Seorang muslim mengakui bahwa tetangga memiliki hak yang patut dipenuhinya, dan bahwa memenuhinya merupakan ibadah, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkannya, Dia berfirman,
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu. Berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil (musafir yang kehabisan bekal), dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (Qs. An Nisaa: 36)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
«مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ، حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ»
“Jibril senantiasa berpesan kepadaku (untuk berbuat baik) terhadap tetangga, sehingga aku mengira bahwa ia akan mendapatkan warisan.” (Hr. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar)
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia muliakan tetangganya.” (Hr. Bukhari dan Muslim)
Adab Terhadap Tetangga
Berikut adab-adab terhadap tetangga:
1. Tidak menyakitinya baik dengan ucapan maupun perbuatan.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka janganlah ia sakiti tetangganya.” (Hr. Bukhari dan Abu Dawud)
«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ»
“Tidak masuk surga seorang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (Hr. Muslim)
Beliau juga pernah bersabda, “Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman.” Lalu ada yang bertanya, “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,
«الَّذِي لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ»
“Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (Hr. Bukhari)
Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, “Ada seorang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, ada seorang fulanah disebut namanya karena banyak shalatnya, puasanya, dan sedekahnya, namun ia menyakiti tetangganya dengan lisannya?” Beliau bersabda, “Dia di neraka.” Ada pula yang bertanya, “Wahai Rasulullah, si fulanah disebut namanya karena sedikit puasanya, sedekahnya, dan shalatnya, serta mengeluarkan sedekah dari sepotong aqith (susu beku), dan lisannya tidak menyakiti tetangga?” Beliau bersabda, “Dia di surga.” (Dinyatakan isnadnya hasan oleh pentahqiq Musnad Ahmadcet. Ar Risalah).
Catatan:
Terkadang tanpa kita sadari kita mengganggu tetangga kita, seperti menghidupkan radio atau tipe dengan suara keras, karena boleh jadi tetangga kita merasa terganggu dengannya meskipun kita senang mendengarnya, karena kita tidak tahu apa sebenarnya yang disenangi tetangga kita sebagaimana kita tidak mengetahui apa yang mereka benci. Boleh jadi di antara tetangga kita ada yang sedang tidur, ada yang punya anak kecil, ada yang sedang sakit, ada yang butuh ketenangan, ada yang sedang beribadah yang butuh kekhusyuan, dsb. Oleh karena itu, cukuplah terdengar oleh kita saja.
Penulis terkadang temukan di beberapa daerah, di dalam rumahnya terdapat speaker aktif yang cukup besar dengan maksud memperdengarkan suara musik yang dinyalakan ke tetangga sekitar. Menurut penulis, tindakan ini merupakan contoh mengganggu tetangga dengan lisan dan suara kita yang mendapatkan ancaman seperti yang disebutkan dalam hadits di atas.
Jika seorang berkata, “Lalu mengapa masjid-masjid di zaman sekarang di Indonesia sering terdengar suara darinya begitu keras?”
Menurut penulis -dan Allah lebih mengetahui-, bahwa yang dikeraskan ke tengah-tengah manusia hanyalah suara azan sebagai pemberitahuan tibanya waktu shalat dan sebagai syiar Islam. Adapun suara dzikr, maka sunnahnya dipelankan (dibaca namun tidak perlu menggunakan pengeras suara) sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ
“Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Qs. Al A’raaf: 205)
Adapun dalam shalat, dalam bacaan yang dijaharkan/dikeraskan (Subuh, Maghrib, dan Isya), maka sebaiknya suaranya pertengahan (tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya. Carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (Qs. Al Isra’: 110)
Petunjuk dan arahan yang bijak sebenarnya sudah diterangkan dalam Al Qur’an, hanyasaja kita tidak mau mempelajarinya.
Abu Qatadah radhiyallahu anhu menerangkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu malam pernah melewati Abu Bakr yang sedang shalat malam dengan merendahkan suaranya, dan pada saat yang bersamaan Beliau melewati Umar yang sedang shalat malam dengan mengeraskan suaranya. Ketika keduanya berkumpul di hadapan Beliau, maka Beliau bersabda, “Wahai Abu Bakr, aku melewati (rumah)mu sedangkan engkau dalam keadaan shalat dengan merendahkan suaramu.” Abu Bakr berkata, “Wahai Rasulullah, aku memperdengarkan kepada Tuhan yang kepada-Nya aku bermunajat.” Beliau kemudian bersabda kepada Umar, “Wahai Umar, aku melewati (rumah)mu sedangkan engkau dalam keadaan shalat dengan mengeraskan suaramu.” Umar berkata, “Wahai Rasulullah, aku membangunkan orang-orang yang tidur dan mengusir setan.” Maka Beliau bersabda kepada Abu Bakr, “Wahai Abu Bakar, naikkanlah suaramu sedikit.” Dan bersabda kepada Umar, “Rendahkanlah suaramu sedikit.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dan dishahihkan oleh Al Albani).
2. Berbuat baik kepada tetangga.
Contohnya adalah membantunya jika memerlukan bantuan, menjenguknya ketika sakit, mengiringi jenazahnya ketika meninggal dunia, menyambutnya ketika bergembira, menghiburnya ketika mendapatkan musibah, bertutur kata yang lembut kepadanya, demikian pula ketika berbicara dengan anaknya, mengarahkannya dengan lembut kepada kebaikan baik dalam urusan agama dan dunianya, menjaga areanya yang terpelihara, memaafkan ketegelinciranya, tidak mencari-cari kesalahannya, tidak membuatnya kesempitan baik dalam bangungan yang dibangunnya maupun pada jalannya, tidak menggangunya dengan pancoran yang menimpa kepadanya, tidak membuang kotoran di depan rumahnya, dsb. Ini semua merupakan bentuk sikap berbuat baik kepadanya.
3. Memberikan sesuatu yang bermanfaat kepadanya.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
«يَا نِسَاءَ المُسْلِمَاتِ، لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا، وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ»
“Wahai kaum wanita muslimah! Janganlah sekali-kali seorang tetangga meremekan (pemberian kepada) tetangganya meskipun hanya memberikan kaki kambing kepadanya.” (Hr. Bukhari dan Muslim)
Beliau juga pernah bersabda kepada Abu Dzar radhiyallahu anhu,
«يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً، فَأَكْثِرْ مَاءَهَا، وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ»
“Wahai Abu Dzar, jika engkau masak sayur, maka perbanyaklah airnya dan berikanlah kepada tetanggamu.” (Hr. Muslim)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya oleh Aisyah radhiyallahu anha, “Aku punya dua tetangga, maka ke siapakah aku memberikan hadiah?” Beliau menjawab, “Kepada yang lebih dekat pintunya denganmu.” (Hr. Ahmad, Bukhari, dan Hakim)
4. Menghormati dan memuliakan tetangga
Oleh karena itu, hendaknya ia tidak menghalangi tetangganya meletakkan kayu pada dindingnya, tidak menjual dan tidak menyewakan bagian yang menempel dengan rumah tetangga atau dekat dengannya sampai menawarkan lebih dulu kepadanya serta bermusyawarah dengannya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,
«لاَ يَمْنَعْ جَارٌ جَارَهُ أَنْ يَغْرِزَ خَشَبَهُ فِي جِدَارِهِ»
“Janganlah seorang tetangga menghalangi tetangganya menancapkan kayuke dindingnya.” (Hr. Bukhari dan Muslim)
مَنْ كَانَ لَهُ شَرِيكٌ فِي حَائِطٍ، فَلَا يَبِعْهُ حَتَّى يَعْرِضَهُ عَلَيْهِ
“Barang siapa memiliki sekutu dalam sebuah kebun, maka janganlah ia menjualnya sampai menawarkan kepada sekutunya.” (Hr. Ahmad. Al Kharaithi menambahkan kata “jaar” yakni bagi yang memiliki tetangga, ia juga tawarkan dulu kepadanya. Hakim juga meriwayatkan hadits ini dan ia menshahihkannya).
Catatan:
a. Seorang muslim dapat mengetahui keadaan dirinya apakah ia telah berbuat baik kepada tetangganya atau malah telah berbuat buruk kepada tetangganya berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada orang yang bertanya tentang hal itu, maka Beliau menjawab, “Apabila kamu mendengar tetanggamu berkata, “Engkau telah berbuat baik.” Maka berarti engkau telah berbuat baik, tetapi apabila engkau mendengar mereka berkata, “Engkau telah berbuat buruk,” maka berarti engkau telah berbuat buruk.” (HR. Ahmad dengan sanad yang jayyid)
b. Apabila seorang muslim diuji dengan tetangga yang buruk, maka hendaklah ia bersabar, karena sabarnya itu akan menjadi penyebab lepasnya ia dari hal tersebut. Pernah datang seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengeluhkan tentang tetangganya, maka Beliau bersabda, “Pergilah dan bersabarlah.” Lalu orang itu datang lagi untuk yang kedua kali atau ketiga kalinya, maka Beliau bersabda, “Taruhlah barangmu di jalan.” Lalu ia menaruhnya, kemudian orang-orang melewatinya dan berkata, “Ada apa dengamu?” Ia menjawab, “Tetanggaku telah menyakitiku, lalu mereka melaknat tetangganya sampai tetangganya datang dan berkata, “Kembalikanlah barangmu ke rumah. Demi Alah, aku tidak akan mengulanginya lagi.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan hasan shahih oleh Al Albani).
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji’:  Minhajul Muslim (Abu Bakar Al Jazairiy), Maktabah Syamilah versi 3.45, http://islam.aljayyash.net, Modul Akhlak SMP kelas 8 (Penulis), www.alukah.net,  dll.
Read More

Removing the background image from the header of Blogger's Travel theme

This article explains how to remove the semi-transparent image that is shown at the back of the Travel theme (template) provided by Blogger.




I like Blogger's Travel template (now called a theme) - it's clean, and lets me control lots of things. 

But I don't like the semi-transparent image that you can see underneath parts of blog-header, navigation bar and perhaps the post header and body.

By itself, this image looks like this (I suspect it's supposed to be represented a scrunched-up piece of travel diary paper of similar):




Underneath one of my blog's header it's like this - see the lightly shaded area to the left of the red arrow:




Do you see the grey shading? You can possibly ignore it - until you do something like show an ad-unit with a genuine white background in that really shows up the difference. Then it just looks scruffy.

I'm sure that with some major template changes, it could be eliminated altogether - but luckily there's an easier way which just involves replacing it with a transparent image of the same size.   I think that this is a good deal less likely to cause expected problems in some other part of the template, so here's what I do.


How to remove the scrunched grey background from Blogger's Travel template

Make a new image file, the same size but transparent, to use instead of the current one.
You are welcome to use a copy of mine, which is found at: 
https://4.bp.blogspot.com/-2oR7zqcTvrM/WphFnD-U4DI/AAAAAAAA2_4/Q6g3yc27yBoH5QNFNTF5MWj4NuJdZzdQwCKgBGAs/s1600/travel-theme-blogger-template-replacement-post-title-background-image-totally-transparent.png

Load this to someplace (I use Google Photos, other people use Imgur or similar)

Get the web-address for your replacement image (this is how I get a picture URL from Photos)

Edit your Blogger template in the usual way and replace all instances of
https://resources.blogblog.com/blogblog/data/1kt/travel/bg_container.png
with the URL of your own file.


Job done! Your blog will now show your transarent (or whatever) file instead of the dirty-grey half-shadows image that is there by default.




Read More

Monday, May 20, 2019

How to change AddThis Follow button settings for a gadget on blog or website

This article shows how to change the accounts presented in an AddThis Follow gadget which has already been set up on a Wordpress-based website.

(Note:   this is only relevant for Wordpress.org users.   Wordpress.com users do not have the same freedom to add or configure plug-ins.)





The AddThis plug-ins for Wordpress provide several functions.  One is a Follow gadget, which lets you offer links to your account on other platforms (eg on Twitter, Facebook and Instragram), so that people who are interested can subscribe to you there, and get updates from you even if they don't visit your blog or website regularly). 

When you install and activate this plugin, there is a screen where you can choose which other platforms to show, and say what your address on those platforms is. 

After you have set up the plug-in, then you an add the AddThis Follow widget to your site,   This gadget displays an icon for each tool which you selected, and each one link to the account that you provided.    How exactly it looks depends on the options you choose, but one possibility (Horizontal Follow) is like this:






But - how do you change these settings after the gadget has been added? 


For most widgets, to change their settings you just:
  • Choose Appearance > Widgets from the left hand menu
  • Find the widget in the list of ones that have been installed
  • Click the down-arrow beside the name, to reveal the options.

And initially, AddThis-Follow looks much the same.  Rather than giving the detailed options immediately, it says

To edit the options for your AddThis tools, please go to the plugin's settings

Which sounds fair enough - there were a lot of values displayed on the page where you selected which social media platforms to include and how to connected them to your blog.


So you click the link, and get taken to a page - example below- which looks nothing like the one where you chose the services to display in the widget.   Even when you scroll down, nothing looks familiar, or even gives any clues about how to update the linked social networking accounts:





How to change the accounts offered by the AddThis Follow widget after it has been added


Don't start with the Appearance > Widgets  menu item.

Instead:
  • Choose with Plugins >  Installed plugins  
  • Find   Follow Buttons by AddThis in the list.
  • Click Settings
  • In the list of gadgets that is displayed, beside the type of Follow button you used (horitzontal or vertical), click the Settings button.    [Yes, that is two Settings clicks in a row.]

This opens up the familiar screen where you can choose social media services by clicking on their icon, and entering your name on that service in the field at the bottom of the page.





Job Done!    

You can now edit the social media accounts linked to your blog  - both correcting errors in the original setup, or adding new accounts which have been added since then.


What this means

Aach AddThis widget (eg AddThis-Follow, AddThis-Inline, etc) has the same settings each time it is used on your site.   So, provided your theme supports having gadgets in multiple places, you can have the Follow-Me gadget several places  (eg in your sidebar and underneath your posts) - always looking the same and linking tothe same social-media accounts.



Read More

Saturday, May 18, 2019

Makna Nuzulul Quran


Nuzulul Quran

Apa yang dimaksud nuzulul quran di malam lailatul qadar? Bukankah al-Quran turun secara berangsur-angsur?
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
Kita meyakini bahwa al-Quran turun ketika lailatul qadar. Terdapat banyak dalil yang menunjukkan hal ini. Diantaranya firman Allah di surat al-Qadar yang sering kita baca,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ . لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada lailatul qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (QS. al-Qadar: 1 – 3)
Sebelumnya diturunkan, al-Quran berada di Lauhul Mahfudz. Kemudian Allah turunkan melalui Jibril.
Kita juga meyakini bahwa al-Quran diturunkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berangsur-angsur. Sebagaimana realita sejarah yang kita baca. Disamping itu, ada ayat yang menegaskan,
وَقُرْآَنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنزلْنَاهُ تَنزيلًا
Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. al-Isra: 106)
Selanjutnya, ulama berbeda pendapat tentang bagaimana cara Allah menurunkan al-Quran di malam qadar.
As-Suyuthi dalam kitabnya al-Itqan fi Ulum al-Quran menyebutkan ada 3 pendapat,
Pertama, al-Quran turun secara utuh keseluruhan ke langit dunia pada saat lailatul qadar. Selanjutnya Allah turunkan secara berangsur-angsur selama masa kenabian.
Kata as-Suyuthi, ‘Ini adalah pendapat yang paling shahih dan paling terkenal’.
Kedua,  al-Quran turun setiap lailatul qadar selama masa kenabian. Kemudian turun berangsur-angsur kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama setahun itu.
Sebagai ilustrasi, (hanya permisalan untuk mendekati pemahaman)
Di malam qadar tahun 1 Hijriyah, Allah menurunkan 2 juz al-Quran. Selanjutnya, al-Quran sebanyak 2 juz itu, turun secara berangsur-angsur selama setahun. Hingga datang lailatul qadar di tahun 2 H. Lalu Allah turunkan lagi 3 Juz (misalnya) di malam qadar tahun 2 H. Selanjutnya turun  secara berangsur-angsur selama setahun, hingga datang lailatul qadar di tahun 3 H, dan demikian seterusnya.
As-Suyuthi menyebutkan, ini merupakan pendapat Fakhruddin ar-Rozi.
Ketiga, al-Quran pertama kali turun di lailatul qadar. Selanjuntnya al-Quran turun berangsur-angsur di waktu yang berbeda-beda. Ini merupakan pendapat as-Sya’bi.
Dan as-Suyuthi lebih cenderung menguatkan pendapat yang pertama. Beliau menyebutkan riwayat yang mendukung pendapat ini. Diantaranya,
Riwayat dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau mengatakan,
أنزل القرآن جملة إلى السماء الدنيا ليلة القدر، ثم نزل بعد ذلك في عشرين سنة
Al-Quran turun secara utuh ke langit dunia pada saat lailatul qadar. Kemudian setelah itu, turun selama 20 tahun. (HR. Nasai dalam al-Kubro, 11372).
As-Suyuthi juga menyebutkan keterangan al-Hafidz Ibnu Katsir yang menyebutkan riwayat bahwa ulama sepakat al-Quran diturunkan utuh ke Baitul Izzah di langit dunia. Ibnu Katsir mengatakan,
وحكى الإجماع على أن القرآن نزل جملة واحدة من اللوح المحفوظ إلى بيت العزة في السماء الدنيا
Disebutkan adanya ijma’ bahwa al-Quran turun secara utuh dari lauhul mahfudz ke Baitul Izzah di langit dunia. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/502 dan al-Itqan, 1/118).
Allahu a’lam.
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

DI Posting Ulang dari :
Read more https://konsultasisyariah.com/25152-makna-nuzulul-quran.html
Read More

Bagaimana Kita Merayakan Nuzulul Quran?



Saudaraku! Setiap tahun, dan tepatnya di bulan suci Ramadhan ini, banyak dari umat Islam di sekitar anda merayakan dan memperingati suatu kejadian bersejarah yang telah merubah arah sejarah umat manusia. Dan mungkin juga anda termasuk yang turut serta merayakan dan memperingati kejadian itu. Tahukah anda sejarah apakah yang saya maksudkan?
Kejadian sejarah itu adalah Nuzul Qur’an; diturunkannya Al Qur’an secara utuh dari Lauhul Mahfuzh di langit ketujuh, ke Baitul Izzah di langit dunia.
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ. البقرة 185
“Bulan Ramadhan, bulan yang di padanya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (Qs. Al Baqarah: 185)
Peringatan terhadap turunnya Al Qur’an diwujudkan oleh masyarakat dalam berbagai acara, ada yang dengan mengadakan pengajian umum. Dari mereka ada yang merayakannya dengan pertunjukan pentas seni, semisal qasidah, anasyid dan lainnya. Dan tidak jarang pula yang memperingatinya dengan mengadakan pesta makan-makan.
Pernahkan anda bertanya: bagaimanakah cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sahabatnya dan juga ulama’ terdahulu setelah mereka memperingati kejadian ini?
Anda merasa ingin tahu apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Simaklah penuturan sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhu tentang apa yang beliau lakukan.
كَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ . رواه البخاري
“Dahulu Malaikat Jibril senantiasa menjumpai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada setiap malam Ramadhan, dan selanjutnya ia membaca Al Qur’an bersamanya.” (Riwayat Al Bukhari)
Demikianlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermudarasah, membaca Al Qur’an bersama Malaikat Jibril alaihissalam di luar shalat. Dan ternyata itu belum cukup bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau masih merasa perlu untuk membaca Al Qur’an dalam shalatnya. Anda ingin tahu, seberapa banyak dan seberapa lama beliau membaca Al Qur’an dalam shalatnya?
Simaklah penguturan sahabat Huzaifah radhiallahu ‘anhu tentang pengalaman beliau shalat tarawih bersama Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Pada suatu malam di bulan Ramadhan, aku shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam bilik yang terbuat dari pelepah kurma. Beliau memulai shalatnya dengan membaca takbir, selanjutnya beliau membaca doa:
الله أكبر ذُو الجَبَرُوت وَالْمَلَكُوتِ ، وَذُو الكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ
Selanjutnya beliau mulai membaca surat Al Baqarah, sayapun mengira bahwa beliau akan berhenti pada ayat ke-100, ternyata beliau terus membaca. Sayapun kembali mengira: beliau akan berhenti pada ayat ke-200, ternyata beliau terus membaca hingga akhir Al Baqarah, dan terus menyambungnya dengan surat Ali Imran hingga akhir. Kemudian beliau menyambungnya lagi dengan surat An Nisa’ hingga akhir surat. Setiap kali beliau melewati ayat yang mengandung hal-hal yang menakutkan, beliau berhenti sejenak untuk berdoa memohon perlindungan. …. Sejak usai dari shalat Isya’ pada awal malam hingga akhir malam, di saat Bilal memberi tahu beliau bahwa waktu shalat subuh telah tiba beliau hanya shalat empat rakaat.” (Riwayat Ahmad, dan Al Hakim)
Demikianlah cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingati turunnya Al Qur’an pada bulan ramadhan, membaca penuh dengan penghayatan akan maknanya. Tidak hanya berhenti pada mudarasah, beliau juga banyak membaca Al Qur’an pada shalat beliau, sampai-sampai pada satu raka’at saja, beliau membaca surat Al Baqarah, Ali Imran dan An Nisa’, atau sebanyak 5 juz lebih.
Inilah yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan, dan demikianlah cara beliau memperingati turunnya Al Qur’an. Tidak ada pesta makan-makan, apalagi pentas seni, nyanyi-nyanyi, sandiwara atau tari menari.
Bandingkan apa yang beliau lakukan dengan yang anda lakukan. Sudahkah anda mengetahui betapa besar perbedaannya?
Anda juga ingin tahu apa yang dilakukan oleh para ulama’ terdahulu pada bulan Ramadhan?
Imam As Syafi’i pada setiap bulan ramadhan menghatamkan bacaan Al Qur’an sebanyak enam puluh (60) kali.
Anda merasa sebagai pengikut Imam As Syafi’i? Inilah teladan beliau, tidak ada pentas seni, pesta makan, akan tetapi seluruh waktu beliau diisi dengan membaca dan mentadaburi Al Qur’an.
Buktikanlah saudaraku bahwa anda adalah benar-benar penganut mazhab Syafi’i yang sebenarnya.
Al Aswab An Nakha’i setiap dua malam menghatamkan Al Qur’an.
Qatadah As Sadusi, memiliki kebiasaan setiap tujuh hari menghatamkan Al Qur’an sekali. Akan tetapi bila bulan Ramadhan telah tiba, beliau menghatamkannya setiap tiga malam sekali. Dan bila telah masuk sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, beliau senantiasa menghatamkannya setiap malam sekali.
Demikianlah teladan ulama’ terdahulu dalam memperingati sejarah turunnya Al Qur’an. Tidak ada pesta ria, makan-makan, apa lagi na’uzubillah pentas seni, tari-menari, nyanyi-menyanyi.
Orang-orang seperti merekalah yang dimaksudkan oleh firman Allah Ta’ala:
اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاء وَمَن يُضْلِلْ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ .  الزمر23
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.” (Qs. Az Zumar: 23)
Dan oleh firman Allah Ta’ala:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ {2} الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ {3} أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ. الأنفال 2-4
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahalah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rejeki yang Kami berikan kepada mereka, Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rejeki (nikmat) yang mulia.” (Qs. Al Anfaal: 2-4)
Adapun kita, maka hanya kerahmatan Allah-lah yang kita nantikan. Betapa sering kita membaca, mendengar ayat-ayat Al Qur’an, akan tetapi semua itu seakan tidak meninggalkan bekas sedikitpun. Hati terasa kaku, dan keras, sekeras bebatuan. Iman tak kunjung bertambah, bahkan senantiasa terkikis oleh kemaksiatan. Dan kehidupan kita begitu jauh dari dzikir kepada Allah.
Saudaraku! Akankan kita terus menerus mengabadikan keadaan kita yang demikian ini? Mungkinkah kita akan senantiasa puas dengan sikap mendustai diri sendiri? Kita mengaku mencintai dan beriman kepada Al Qur’an, dan selanjutnya kecintaan dan keimanan itu diwujudkan dalam bentuk tarian, nyayian, pesta makan-makan?
Kapankah kita dapat membuktikan kecintaan dan keimanan kepada Al Qur’an dalam bentuk tadarus, mengkaji kandungan, dan mengamalkan nilai-nilainya?
Tidakkah saatnya telah tiba bagi kita untuk merubah peringatan Al Qur’an dari pentas seni menjadi bacaan dan penerapan kandungannya dalam kehidupan nyata?
***
Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri (lulusan Universitas Islam Madinah)
Artikel www.pengusahamuslim.com, dipublish ulang oleh www.masjhu.com
Read More

Fiqih Darurat

بسم الله الرحمن الرحيم

Fiqih Darurat
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba'du:
Berikut pembahasan tentang fiqih darurat, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, aamin.
Ta’rif (definisi) Darurat
Para fuqaha (Ahli Fiqih) terdahulu memberikan beberapa definisi terkait tentang darurat, intinya bahwa darurat adalah kondisi terpaksa yang jika seseorang tidak melakukan yang diharamkan, maka dirinya akan binasa atau hampir binasa. Binasa atau hampir binasa ini didasari oleh hal yang yakin atau perkiraan kuat.
Dalam kondisi darurat, ada kaidah fiqih yang masyhur, yaitu:
اَلضَّرُوْرَاتُ تُبِيْحُ الْمَحْظُوْرَاتِ
“Kondisi darurat membolehkan yang diharamkan.”
Kaidah ini didasari oleh firman Allah Ta’ala,
إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah, tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedangkan dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al Baqarah: 173)
Allah membolehkan mengkonsumsi yang haram karena darurat, karena Dia menginginkan kemudahan dan tidak menginginkan kesulitan bagi kita (lihat Qs. Al Baqarah: 185 dan Qs. Al Maidah: 6), bahkan Dia hendak memberikan keringanan kepada kita (lihat Qs. An Nisaa: 28), Dia juga Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya sehingga menetapkan syariat ini.
Contoh Kondisi Darurat
Para fuqaha (Ahli Fiqih) sepakat, bahwa orang yang kelaparan yang berada dalam kondisi darurat yang tidak memperoleh makanan yang halal untuk menghindarkan kebinasaan dari dirinya, maka tidak mengapa mengkonsumsi yang haram apabila tidak mendapati selainnya. Orang tersebut boleh memakan yang haram namun seukuran yang dapat menghilangkan kondisi darurat (tanpa berlebihan), karena Allah Ta’ala berfirman,
فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لإِثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al Maidah: 3)
Dalam ayat lain, Allah Ta’ala juga berfirman,
مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Barang siapa yang kafir kepada Allah setelah dia beriman (maka dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (maka dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (Qs. An Nahl: 106)
Oleh karena itu, apabila seorang muslim diancam akan disiksa dengan sebenarnya sampai ia mau mengucapkan kata-kata kufur, namun hatinya tetap tenang dengan keimanan, maka dia tidak kafir karena kata-kata itu.
Termasuk juga tidak mengapa menolak gangguan orang yang menganiayanya meskipun sampai membuat penganiaya itu terbunuh.
Akan tetapi, dalam keadaan bagaimanakah suatu keadaan dianggap sebagai darurat? Dan apa maksud darurat? Apakah setiap kesulitan yang dirasakan dianggap sebagai darurat?
Sebagaimana telah diterangkan sebelumnya, bahwa darurat adalah kondisi dimana jika tidak dilakukan perkara haram itu maka dirinya akan binasa atau mendapatkan bahaya berat yang menimpa salah satu dari yang lima ini; agama, jiwa, akal, harta, dan kehormatan. Ketika inilah tidak mengapa bagi seseorang mendatangi yang haram karena darurat.
Perhatikan pernyataan ini ‘maka dirinya akan binasa atau mendapatkan bahaya yang berat’ seperti akan hilangnya anggota badannya, maka dalam kondisi ini ia boleh melakukan yang haram itu karena darurat.
Pernyataan ini juga butuh perincian. Oleh karenanya, kita tidak boleh meninggalkan jihad fi sabilillah karena untuk menjaga jiwa sambil mengatakan, “Meninggalkan jihad adalah darurat, karena jihad menyebabkan nyawa terbunuh.” Bahkan tidak demikian, karena menjaga agama jauh lebih tinggi, sedangkan jihad sesuatu yang mesti untuk menjaga agama.
Di samping itu, dalam hal darurat ada perkara yang didahulukan dan diakhirkan. Misalnya kerongkongan seseorang tersumbat suatu makanan, dimana ia tidak memperoleh untuk memasukkan makanan itu kecuali khamr (arak) agar dapat menelan makana itu, karena jika tidak maka ia akan meninggal dunia, maka ia diperbolehkan mengkonsumsi khamr sekedar untuk memasukkan sumbatan makanan itu dan menyelamatkan dirinya dari kebinasaan sekalipun mengakibatkan bahaya pada akalnya.
Batasan Darurat
Menggunakan kaedah “Adh Dharuratu tubihul mahzhuraat” (kondisi darurat menghalalkan yang haram) ada batasannya, yaitu:
Pertama, seseorang tidak boleh menjatuhkan dirinya dalam kondisi darurat.
Oleh karena itu, tidak boleh bagi seseorang membinasakan hartanya dan makanannya yang halal, dimana dirinya mengetahui bahwa setelahnya ia terpaksa mengkonsumsi yang haram, maka orang ini berdosa karena menjatuhkan dirinya ke dalam kondisi darurat.
Kedua, adanya kondisi darurat dan  tidak ada sarana untuk menyingkirkan darurat kecuali dengan yang haram, dan perkara haram ini secara pasti dapat menghilangkan darurat itu; bukan didasari perkiraan yang tidak kuat (ragu-ragu).
Ketiga, darurat disesuaikan dengan ukuran atau kadarnya.
Oleh karena itu, jika seseorang terpaksa harus berdusta padahal ia masih bisa melakukan tauriyah (pernyataan yang mengandung beberapa kemungkinan yang bisa masuk ke dusta atau benar), maka tidak boleh baginya berdusta.
Jika seseorang dipaksa mengucapkan kata-kata kufur, maka hatinya tidak boleh ikut kufur.
Jika seseorang boleh tayammum karena darurat, maka setelah mampu menggunakan air, ia tidak boleh lagi bertayammum.
Termasuk juga tidak boleh bagi seorang dokter laki-laki menyingkap bagian yang sakit dari aurat wanita, kecuali sesuai ukuran bagian yang sakit; tidak melebihinya, tentunya setelah sebelumnya wanita atau mahramnya mencarikan dokter wanita terlebih dahulu. Di samping itu, harus didampingi mahramnya, dan jika cukup dengan dilihat, maka tidak boleh disentuh, dan jika bisa memakai penghalang, maka tidak boleh menyentuh langsung. Demikian juga jika untuk pemeriksaan hanya cukup sebentar, maka tidak boleh lama-lama disingkap.
Keempat, bahaya tidak boleh disingkirkan dengan yang semisalnya atau yang lebih berbahaya lagi daripadanya.
Oleh karena itu, jika seseorang berkata kepadanya, “Bunuhlah si fulan! Jika tidak, maka aku akan rampas hartamu,” maka tidak baginya membunuh orang itu. Bahkan kalau pun seseorang berkata kepadanya, “Bunuhlah si fulan! Jika tidak, maka kami akan membunuhmu.” Padahal si fulan itu seorang muslim yang terpelihara darahnya, maka tidak boleh menurutinya dengan membunuhnya, karena jiwa yang satu dengan yang lain adalah sama terpelihara, maka bagaimana diperbolehkan membunuh muslim yang lain demi menyelamatkan dirinya? Oleh karena itu, para ulama berkata, “Tidak boleh bagi tentara muslim memerangi tentara muslim tanpa alasan yang benar meskipun mereka dipaksa (akan dibunuh).”
Demikian pula apabila seorang tentara muslim dipaksa memberitahukan musuh jalan untuk menembus negeri muslim agar mereka dapat menguasainya, maka tidak boleh baginya menunjukkannya kepada musuh.
Kelima, waktu kebolehan mendatangi yang haram dibatasi selama masih dalam kondisi darurat.
Faedah:
1. Apa batasan paksaan yang jika menimpa seseorang, maka diperbolehkan melakukan yang haram? Yakni apakah ketika seseorang diancam akan dicambuk sekali atau dua kali cukup membuat seseorang melakukan yang diharamkan?
Para Ahli fiqih berkata, “Cambukan yang dianggap ikrah (terpaksa dan darurat) adalah cambukan atau pukulan yang dapat mengakibatkan nyawa melayang, atau salah satu anggota badan binasa, atau menerima rasa sakit yang tidak sanggup dipikulnya.”
2. Paksaan yang menjadikan kondisi darurat juga syaratnya adalah: (a)  orang yang memaksa mampu melakukan ancaman itu, (b) orang yang dipaksa tahu atau memiliki perkiraan kuat bahwa pemaksa mampu menjalankan ancaman itu, (c) orang yang dipaksa tidak mampu menyingkirkan hal itu dari dirinya baik dengan melawan atau melarikan diri, (d) ancaman yang ditimpakan kepadanya menggunakan sesuatu yang membuat binasa dirinya atau menimbulkan bahaya besar seperti membuatnya terbunuh atau binasa salah satu anggota badannya, atau penyiksaan yang meninggalkan bekas, atau penjara yang lama, (e) paksaan dilakukan segera, misalnya diancam akan segera dibunuh, sehingga jika ancamannya masih lama diberlakukan seperti besok, atau lusa, maka tidak dianggap sebagai ikrah (paksaan).
 3. Seorang muslim juga harus berusaha sekuat tenaga untuk menyingkirkan kondisi darurat yang menimpa dirinya.
Para ulama berkata, “Ketika diperbolehkan bagi kaum muslim pada suatu masa mengadakan perdamaian dengan musuh karena darurat setelah terpenuhi syarat syar’i, maka kaum muslim harus berusaha keluar dari kondisi darurat itu yang membuat mereka terpaksa berdamai dengan musuh.”
Maksud terpenuhi syarat syar’i adalah ketika yang melakukan shulh (damai) adalah khalifah kaum muslim yang diangkat mereka atau wakilnya yang diangkat oleh khalifah, dan bahwa shulh itu lebih baik bagi kaum muslim dan tidak menimbulkan bahaya yang lebih besar, dan tentunya waktunya dibatasi sebagaimana yang diterangkan para Ahli Fiqih, dimana batas maksimalnya adalah 10 tahun berdasarkan Shulhul Hudaibiyah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Meskipun begitu, kaum muslim harus berusaha menyingkirkan kelemahan dari diri mereka, dan berusaha memperkuat diri dan melakukan persiapan untuk menghadapi musuh.
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji’: At Tasahul fil ihtijaj bidh dharurah (Khutbah Syaikh M. Bin Shalih Al Munajjid), https://islamqa.info , https://www.alukah.net/sharia/0/122270/ dll.
Read More